Pasca Mutasi, Yosep Jarang Hadir di Acara Kedinasan
KUNINGAN – Jarang
tampilnya Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kuningan Drs H Yosep Setiawan MSi
dalam beberapa acara kedinasan, menimbulkan pertanyaan dan dugaan banyak pihak.
Banyak kalangan yang menduga, absennya sekda dalam berbagai kegiatan resmi pemerintahan
tidak terlepas dari mutasi yang dilakukan akhir tahun lalu. Kabarnya, sekda
tidak dilibatkan secara penuh dalam proses penyusunan draf mutasi oleh bupati
kendati menduduki jabatan sebagai ketua Baperjakat.
Mungkinkan hubungan sekda dengan Bupati Kuningan Acep
Purnama tengah renggang? Berdasarkan informasi yang didapat Radar dari orang
dalam gedung putih, sudah sebulan ini keberadaan Sekda Yosep Setiawan seolah
tidak lagi difungsikan. Yosep tak lagi diminta untuk menghadiri acara kedinasan
mewakili bupati atau bahkan sekadar turut hadir mendampingi bupati. Dalam
setiap jadwal agenda kegiatan yang disebar oleh Bagian Humas Setda ke kalangan
jurnalis setiap harinya, nama sekda tak pernah lagi tercantum sebagai orang
yang mewakili bupati atau wabup ketika ada kegiatan.
Sumber itu juga mengatakan, jika hubungan yang kurang
harmonis antara bupati dan sekda diduga karena ada pembisik ke bupati. Sehingga
tingkat kepercayaan bupati ke sekda menurun drastis hingga ke titik nol.
“Kondisi ini sudah terjadi sejak jauh hari sebelum Dede Sembada dilantik
menjadi wakil bupati. Sekda sudah tidak lagi dilibatkan dalam kegiatan
pemerintahan, mewakili bupati untuk acara dinas termasuk saat proses mutasi
para pejabat. Katanya beliau hanya satu kali diajak rapat bersama bupati dan
BKD untuk membahas mutasi tersebut,” kata sumber tadi.
Bahkan, Yosep yang kerap hadir dalam sejumlah acara
kedinasan yang tidak bisa dihadiri langsung oleh bupati, kini cenderung
diwakilkan oleh asisten daerah (asda) atau staf ahli bupati. Disinyalir, kurang
harmonisnya hubungan sekda dan bupati ini dipengaruhi oleh adanya ambisi
pejabat yang menginginkan jabatan Yosep tersebut. “Ya konstelasinya seperti
itu. Padahal sabar saja, beliau kan sebentar lagi pensiun. Tunggu sampai
pensiun kalau memang berambisi menjadi sekda,” ujarnya.
Sekda Yosep sendiri membantah jika hubungannya dengan bupati
kurang harmonis. Sebagai seorang abdi negara, dia tetap menjalankan fungsinya
dalam pemerintahan. Soal jarang hadir dalam berbagai kegiatan pemerintahan,
Yosep berkilah jika kondisi kesehatan menjadi faktor utama tidak hadir di acara
resmi. “Hubungan saya dengan pak bupati baik-baik saja, tidak ada masalah.
Sering komunikasi kok. Cuma seminggu ini memang saya sakit, dan juga sudah
mengajukan cuti sakit. Jadi, tidak benar kalau hubungan saya dan pak bupati
tidak harmonis,” jawabnya.
Pemerhati politik, Muhammad Zaenal menilai, posisi Yosep
saat ini terbilang strategis. Dia mempunyai posisi tawar yang cukup tinggi
meski mau pensiun, Maret tahun depan. Jika saja Yosep terus diabaikan
posisinya, bisa saja Yosep memilih bertahan sampai pensiun. “Masalahnya jika
dia mengambil jalan pensiun sesuai ketentuan, maka akan berdampak terhadap
kekosongan petinggi di Kabupaten Kuningan. Dengan catatan, bupati dan wakil bupati
maju di Pilkada 2018. Enggak kebayang kalau jabatan bupati, wabup dan sekda
kosong. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab dalam menjalankan roda
pemerintahan di Kabupaten Kuningan,” sebutnya setengah bertanya.
Zaenal menerangkan, di pilkada mendatang, kemungkinan bupati
dan wakil bupati maju kembali sebagai bakal calon. Itu berarti kursi bupati dan
wabup kosong tiga bulan sebelum pemilihan sesuai ketentuan dimana petahana
harus cuti. Nah, di tengah kekosongan ini sekda yang mempunyai peran. Tapi sebaliknya
jika sekda memilih pensiun lebih awal karena mempertimbangkan bakal terjadinya
kekosongan jabatan, maka pemerintahan akan berjalan normal. Sekda baru bisa
menggantikan peran bupati yang kosong.
Dan itu berarti, sambung dia, sekda harus mundur lebih awal
yakni sekitar bulan November 2017. Asumsinya di bulan itu atau bulan
berikutnya, sekda baru sudah dilantik. “Tidak kebayang kalau sekda tetap
keukeuh pensiun sesuai jadwal. Praktis terjadi kekosongan di tiga jabatan
tertinggi pemerintah daerah, yakni bupati, wabup dan sekda. Itu tidak baik bagi
roda pemerintahan. Siapa yang akan bertanggung jawab, meski akhirnya pemprov
kemudian menunjuk penjabat bupati,” beber dia. (RC)
loading...
Post a Comment